Sungguh tak mudah menjadi anak yang berbakti. Teramat beratnya, hingga mustahil kita mampu melakukan sesuatu yang benar-benar bisa membalas kebaikkan dan kepayahan yang dilakukan orang tua terhadap kita, anaknya.
Aku belum lagi sampai di titik, dimana punggungku memancarkan darah karena menggendong ibu dangan punggungku sejauh ratusan kilometer hingga tawaf 7x, dan seterusnya. Sungguh terlalu jauh dari semua itu.
Ku hanya bisa menangisi ketakmampuanku.
Duhai cinta yang takkan padam, maafkan aku....
Jumat, 27 Desember 2013
Hari yang Sulit
Kata orang, hidup memang penuh lika-liku, kadang sulit kadang mudah, sedih, senang terus bergulir. Kamu akan lupa bagaimana rasanya sedih saat kamu di buai kesenangan. Kala kesedihan, kesukaran atau duka yang sedang merundung, kesenangan yang pernah (atau bahkan sering) kamu alami akan menguap bagai air yang terus-terus dipanasi, dan kemudian kering, hilang tak berbekas.
Kini aku sedang berada di lereng-lereng kegundahan, keterpurukkan akibat pilihan yang aku pilih, kemalasan yang merajai, hingga aku tak tahu lagi apa yang bisa lakukan. Mencaci diri karena sok pintar. Dimana aku (sebenarnya)?
Semua seakan menuding, tak ada yang peduli. Seakan semua musuh bagiku.
Kadang ini seperti bom waktu yang ku tanam sendiri.
Sungguh kondisi ini tak mudah bagiku. Rasanya aku mau jatuh, kakiku terasa tak sanggup bertahan di lereng nan curam ini.
Kini aku sedang berada di lereng-lereng kegundahan, keterpurukkan akibat pilihan yang aku pilih, kemalasan yang merajai, hingga aku tak tahu lagi apa yang bisa lakukan. Mencaci diri karena sok pintar. Dimana aku (sebenarnya)?
Semua seakan menuding, tak ada yang peduli. Seakan semua musuh bagiku.
Kadang ini seperti bom waktu yang ku tanam sendiri.
Sungguh kondisi ini tak mudah bagiku. Rasanya aku mau jatuh, kakiku terasa tak sanggup bertahan di lereng nan curam ini.
Jumat, 08 November 2013
Masa kecil penuh mistis
Perbincangan ringan dengan mas Robbi Habibi
pagi ini mengingatkan aku pada kitab berbahasa arab melayu gundul,
peninggalan Amak(Nenek)ku yang diserahkan padaku beberapa bulan sebelum
Amak meninggal. Kitab itu sudah berumur, sangat jelas sejak pertama kali
aku membukanya. Aku entah generasi keberapa yang memegangnya.
Masalahnya saat ini adalah dimana kitab itu sekarang, aku lupa
menaruhnya dimana. Setelah ku coba membawa ingatan kemasa penuh haru itu barulah ku berani meyakinkan diri, kekuatiranpun menguap.
Kembali kemasa kanak-kanak selalu mampu membuatku tersenyum lepas. Ku coba menguraikan dan begini jadinya.
Aku terlahir di tengah masyarakat yang gemar berkelahi. Masalah kecil dengan mudah membiak jadi besar. Perkara anak ingusan tak jarang membikin dua keluarga tiga turunan tak bertegur sapa. Tapi itu dulu, sekarang lain cerita.
waktu masih kelas I sekolah dasar, hampir tak ada hari aku lewati tanpa tidak berkelahi. beragam gaya, dari lengkap berpakaian dan di tanah lapang, hingga kalalatu kalawa indak babaju indak basirawa, di tengah sawah yang berlumpur pula.
Suatu kali, karena sangat terobsesinya jadi orang bagak, aku pernah otodidak bak seorang pendekar, berlatih bela diri di dalam Gua di kaki bukit, tidak terlalu jauh dari perkampungaku. Saking asyiknya aku tertidur hingga bermalam di sana.
Untung saja inyik dan hantu blau tidak menyadari keberadaanku.
Cerita ini aku persingkat,
Begitu berliku petualangan mistisku di masa kanak-kanak dan remaja. Pernah mau berguru ilmu kebathinan pada seorang guru di kampungku, namun ditolak, waang masih ketek, si guru beralasan. Pernah juga berguru pada adik kakekku di kampung sebelah, beliau pernah jadi guru spiritual seorang bupati di kota P. Dua tahun bolak-balik, tak kenal siang atau malam, alhasil dua buku bintang obor penuh dengan ayat-ayat pekasih, pamanih, adat-adat berjalan, makan dan ilmu-ilmu lainnya.
Dan terahir sebuah kitab pemberian Amak. Pernah suatu kali Amak bercerita, dulu di ladang kakek pernah kecurian dan anehnya si pencuri tak sadarkan diri, hanya mengelilingi ladang, terus sampai kakek datang menegurnya. Ilmu itu ada di kitab ini kata nenek saat menyerahkan kitab itu padaku.
Tapi aku belum percaya, makanya tak sungkan aku menceritakannya di sini.
Kembali kemasa kanak-kanak selalu mampu membuatku tersenyum lepas. Ku coba menguraikan dan begini jadinya.
Aku terlahir di tengah masyarakat yang gemar berkelahi. Masalah kecil dengan mudah membiak jadi besar. Perkara anak ingusan tak jarang membikin dua keluarga tiga turunan tak bertegur sapa. Tapi itu dulu, sekarang lain cerita.
waktu masih kelas I sekolah dasar, hampir tak ada hari aku lewati tanpa tidak berkelahi. beragam gaya, dari lengkap berpakaian dan di tanah lapang, hingga kalalatu kalawa indak babaju indak basirawa, di tengah sawah yang berlumpur pula.
Suatu kali, karena sangat terobsesinya jadi orang bagak, aku pernah otodidak bak seorang pendekar, berlatih bela diri di dalam Gua di kaki bukit, tidak terlalu jauh dari perkampungaku. Saking asyiknya aku tertidur hingga bermalam di sana.
Untung saja inyik dan hantu blau tidak menyadari keberadaanku.
Cerita ini aku persingkat,
Begitu berliku petualangan mistisku di masa kanak-kanak dan remaja. Pernah mau berguru ilmu kebathinan pada seorang guru di kampungku, namun ditolak, waang masih ketek, si guru beralasan. Pernah juga berguru pada adik kakekku di kampung sebelah, beliau pernah jadi guru spiritual seorang bupati di kota P. Dua tahun bolak-balik, tak kenal siang atau malam, alhasil dua buku bintang obor penuh dengan ayat-ayat pekasih, pamanih, adat-adat berjalan, makan dan ilmu-ilmu lainnya.
Dan terahir sebuah kitab pemberian Amak. Pernah suatu kali Amak bercerita, dulu di ladang kakek pernah kecurian dan anehnya si pencuri tak sadarkan diri, hanya mengelilingi ladang, terus sampai kakek datang menegurnya. Ilmu itu ada di kitab ini kata nenek saat menyerahkan kitab itu padaku.
Tapi aku belum percaya, makanya tak sungkan aku menceritakannya di sini.
Senin, 04 November 2013
Hijriah, revolusi ke-1435
Matahari memudur di barat,
angkasa raya bersorak-sorai kegirangan,
angin riuh berkejar-kejaran.
Pun awan punya caranya sendiri meriahkan akhir 1434 ini,
ya, ini jam terakhir, menit terakhir, dan
sebentar lagi detik terakhir untuknya.
Alunan suara muazin petanda reinkarnasi,
kelahiran hijriah baru.
Belum ada yang berubah padaku, pada bangsa ini.
Hanya mampu berkoar, menyalahkan sesama,
merutuk terus dalam hati tanpa aksi.
Selemah-lemah iman, bisik iblis.
Bumi manusia menunggumu, duhai diri.
Kau disusui dan dibesarkan di sini,
di negeri impian para penjajah ini.
Tak pandai balas budi, makiku,
anjingpun akan setia, berbakti pada tuannya.
wahai kau, ya kau...
Buang kepicikkanmu,
jangan berlagak jadi Tuhan,
kami muak, keparat.
Kini 1435,
kata orang-orang macan yang tidur ini akan mengaung,
seperti benua biru tinggalkan "Dark Age" mereka,
di abad pertengahan.
Ini, Ke-1435 kali sang waktu mengulang petuahnya:
"Mulailah revolusi kalian,
mulai...."
(Photo: http://farm5.staticflickr.com/4018/4230917444_1883444dba_z.jpg?zz=1)
Rabu, 16 Oktober 2013
Indra Syafri
Thanks very much, Anda telah menambah referensi orang2 terpilihku.
[Photo: http://cdn.klimg.com/bola.net/library/p/headline/0000129801.jpg]
Negeri manusia terpilih
Di negeri "bumi manusia" inilah manusia-manusia setengah dewa hidup dan menghidupi. Sesuatu yang musykil nyata di sini. Kita akan saksikan adegan keikhlasan vulgar terlihat. Inilah negeri impian, tanah yang dijanjikan (versi kontroversi).
Betri Wendra
[Terinspirasi setelah membaca blog:
http://saptuari.blogspot.ca/2013/10/tuhan-maha-sutradara.html?m=1]
Betri Wendra
[Terinspirasi setelah membaca blog:
http://saptuari.blogspot.ca/2013/10/tuhan-maha-sutradara.html?m=1]
Sabtu, 12 Oktober 2013
Bedah Buku: Api Sejarah 1 dan 2
Butuh waktu empat belas tahun bagiku untuk
mengurutkan adegan sejarah bangsa ini dalam otakku. Dan hanya butuh
waktu empat jam saja untuk membuatnya terserak berhamburan.
Bedah buku Maha karya Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, Guru besar Universitas Padjajaran Bandung, siang tadi di Masjid Kampus UGM sungguh mengesankan.
Ribuan pasang mata dibuat ternganga dengan paparan sang Kyai (Aku menyebutnya demikian) yang sudah sesepuh ini. Begitu sang kyai memulai, jemari sang kyai meliuk2 menggambar peta dunia tepat di hadapanku di atas sebuah papan tulis yang tersedia. Kepiawaian sang Kyai merangkai kata dengan bagan2 apik, membuat kami dengan mudah menapaki aliran sejarah yang sudah berlalu berabad-abad lamanya itu.
Awalnya aku yang duduk hanya 2 meter saja di depan sanga Kyai merasa tersinggung, bahkan sangat tersinggung. Bermula dari pembicaraan perihal jam tangan yang mesti ditangan kanan (mata sang Kyai melirik jam tangan yang terpasang kokoh di tangan kiriku), hingga tokoh2 dari Minang yang menjadi objek pembicaraan kelamnya sejarah negeri ini. Nama-nama semisal M. Yamin dan Tan Malaka diseret-seret karena kiprahnya menjadi induak angkang sebuah partai sayap kiri kala itu. Namun ketersinggungan itu sirna ketika sang Kyai membahasakan kekagumannnya terhadap pendekar2 Minang yang lain seperti Bung Hatta, Buya Hamka dan nama2 besar urang awak lainnya.
Usai acara aku memboyong dua buku fenomal torehan tinta sang Kyai ini. Tidak tanggung-tanggung 200rb minggat dari dompetku. Ini menjadi berat karena kondisi keuanganku yang sedang menyedihkan saat ini. Hanya tersisa selembar duit bergambar Soekarno-Hatta di tanganku yang mulai gemetar. Sementara masih seminggu lagi subsidi baru datang. ya sudah mau bagaimana lagi.
Dalam-dalam ku pandangi buku-buku yang telah ditanda tangani langsung penulisnya ini. Berharap Ia mampu mengusir rasa lapar yang mulai menyerang kampung tengahku, setidaknya untuk malam ini.
By: Betri Wendra
(Photo: http://us.images.detik.com/content/2010/01/09/486/Api-Sejarah-Insert.jpg)
Bedah buku Maha karya Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, Guru besar Universitas Padjajaran Bandung, siang tadi di Masjid Kampus UGM sungguh mengesankan.
Ribuan pasang mata dibuat ternganga dengan paparan sang Kyai (Aku menyebutnya demikian) yang sudah sesepuh ini. Begitu sang kyai memulai, jemari sang kyai meliuk2 menggambar peta dunia tepat di hadapanku di atas sebuah papan tulis yang tersedia. Kepiawaian sang Kyai merangkai kata dengan bagan2 apik, membuat kami dengan mudah menapaki aliran sejarah yang sudah berlalu berabad-abad lamanya itu.
Awalnya aku yang duduk hanya 2 meter saja di depan sanga Kyai merasa tersinggung, bahkan sangat tersinggung. Bermula dari pembicaraan perihal jam tangan yang mesti ditangan kanan (mata sang Kyai melirik jam tangan yang terpasang kokoh di tangan kiriku), hingga tokoh2 dari Minang yang menjadi objek pembicaraan kelamnya sejarah negeri ini. Nama-nama semisal M. Yamin dan Tan Malaka diseret-seret karena kiprahnya menjadi induak angkang sebuah partai sayap kiri kala itu. Namun ketersinggungan itu sirna ketika sang Kyai membahasakan kekagumannnya terhadap pendekar2 Minang yang lain seperti Bung Hatta, Buya Hamka dan nama2 besar urang awak lainnya.
Usai acara aku memboyong dua buku fenomal torehan tinta sang Kyai ini. Tidak tanggung-tanggung 200rb minggat dari dompetku. Ini menjadi berat karena kondisi keuanganku yang sedang menyedihkan saat ini. Hanya tersisa selembar duit bergambar Soekarno-Hatta di tanganku yang mulai gemetar. Sementara masih seminggu lagi subsidi baru datang. ya sudah mau bagaimana lagi.
Dalam-dalam ku pandangi buku-buku yang telah ditanda tangani langsung penulisnya ini. Berharap Ia mampu mengusir rasa lapar yang mulai menyerang kampung tengahku, setidaknya untuk malam ini.
By: Betri Wendra
(Photo: http://us.images.detik.com/content/2010/01/09/486/Api-Sejarah-Insert.jpg)
Langganan:
Postingan (Atom)


