Permulaan hari ini, dua tahun silam.
Jam 00.00
Malam ini, beberapa menit yang lalu seorang teman yang juga keponakanku mengirimi aku pesan singkat. Begini bunyinya: "Coba mamak keluar skrg liat langit mak". Terang saja aku penasaran. Aku melompat dari red karpet tempat tidurku, bergegas melangkah ke depan kost. Beberapa saat ku pandangi langit. Mataku tak berkedip, menahan rasa penasaran yang tiba-tiba mendera. Langit lumanyan cerah malam ini. Warna biru masih mendominasi. Kerlap-kerlip bintang seolah mengedip manja ke arahku, bak seorang pelacur yang waktu itu berdiri menggoda menjajakan miliknya padaku. Ku urut pelan selatan ke utara. Tak ada yang aneh, masih bintang jua yang berkedip. Ku percepat mengalihkan pandang, ke semua arah yang langitnya tak tertutup gedung-gedung angkuh. Sama saja. Aku seperti orang kehilangan, kalang kabut mencari-cari, lirik sana-sini, tak jua ku temui yang ku cari.
Dengan sedikit kesal, ku balas pesan singkat temanku, ku tulis: "Msh bnyk bintang, walau agak berawan. Mang knp?". Terpikir oleh ku, pasti di sana dia terbahak kegirangan karena berhasil mengelabuiku. Awas saja nanti, akan ku balas. Tak lama berselang, sahabat mungilku kembali berdering, petanda masuknya pesan singkat. Ya, dari dia, bertuliskan: "Tdk ad ap2 mak. Indah kn mak? Tdk ad yg bs menandingi ciptaan Allah.". Sejenak ku tertegun, menyadari kesilafanku. Aku merasa telah meremehkan ciptaan Tuhanku yang maha agung. Saat kita menyaksikan keindahan menara eiffel, pasti lidah kita akan berdejak kagum. Merasa itu luar biasa. Namun, adakah keindahan menara eiffel jika dibandingkan dengan alam semesta ciptaan Tuhan ini?. Ini hanya masalah sering dan jarang kita lihat saja.
Lama ku berpikir. Lamunan membawaku ke tahun-tahun pertama waktu kuliah di kota Padang, kotaku tercinta. Delapan bulan lebih aku tinggal di perumahan TVRI Padang. Tepatnya di Jati Adabiah, dekat SMA Negeri 10 Padang. Begitu panjang untuk diceritakan, hingga aku bisa sampai di sini. Aku puntar saja biar singkat. Sebenarnya aku tidak tinggal di salah satu rumah di perumahan ini. Aku tinggal di Mushalla di sudut perumahan. Awalnya aku hanya menumpang dengan bang Diki, teman yang baru ku kenal yang dikemudian hari ku anggap kakak sendiri. Bang Diki sudah semester akhir saat aku pindah ke sini. Hanya satu dua bulan kami bersama di Mushalla TVRI. Hingga tinggal aku seorang diri. Sebagai seorang “Garin Mushalla”, setiap hari aku harus mengayun tangkai sapu, mengajar mengaji selepas magrib, hingga mengimami sembahyang orang-orang penghuni kompleks TVRI ini. Bagiku ini anugerah yang luar biasa. Di saat jalan untuk bisa kuliah benar-benar telah buntu. Karena ikhtiar bumi yang memang tak kunjung sejalan dengan takdir langit. Kampus impianku, Institut Pertanian Bogor telah menerimaku. Namun, keadaan menyadarkanku untuk tak berharap lebih. Membuatku gamang tuk melangkah.
Hidup sendiri di kompleks ini, benar-benar aku bangat. Aku memang suka menyendiri. Kesunyian membuatku ramai. Di samping Mushalla menjulang tinggi menara TVRI, sempurna sudah hidupku. Menara inilah yang hadir dalam lamunanku malam ini,berawal dari pesan singkat temanku tadi. Akhir 2007 silam, hampir tiap malam tak ku lewati tanpa duduk menyendiri di atas menara ini. Malam semakin larut, dinginnya hembusan angin semakin menusuk tulang. Pun begitu, tak menghalangi langkahku untuk menapaki tangga menara yang beribu banyaknya itu. Aku sampai di puncak. Lantainya dari besi padu yang luasnya delapan kali kamarku. Dingin di atas dingin. Dingin angin malam bersekutu dengan dingin lantai besi beserta dinginnya ketinggian. Kesemua-mua sirna ditelan keindahan panorama yang tersuguh di bola mataku. Dari atas sini, semua sudut kota jelas terlihat. Lampu-lampu gedung bertingkat. Lampu kendaraan yang wara-wiri di jalanan. Cahaya dari rumah-rumah di atas gunung yang melingkari kota. Lampu-lampu kapal yang menyemut di sekitar pantai, sungguh pemandangan yang menakjupkan.
Desiran ombak di pantai Padang nan luas begitu jelas di telinga, seolah memanggil-manggil untuk berenang dan berkejaran. Walau tak terhitung sudah kali keberapa aku berada di puncak menara ini. Tetap saja kekagumanku tak pudur, terhadap keelokan malam di negeri yang katanya beradat ini. Di puncak menara ini, aku leluasa memandang birunya langit malam yang berhiaskan bintang-gemintang. Di puncak menara ini di tengah lelapnya kota, ku ingin menatap wajah-Nya yang akan turun ke langit terdekat, seraya berseru: “… Adakah malam ini yang memohon kepadaku, Aku akan kabulkan permohonannya...”. Di puncak menara ini, aku selalu menanti-Nya, merindui-Nya.
Jumat, 19 Juni 2020
Rabu, 17 Juni 2020
Adik dan Keponakanku
18062014
Di tengah persiapan menghadapi ujian, aku di kejutkan oleh kabar gembira dari adik dan keponakanku, Najmi Laili (Mimi) dan M. Rizky Desyafutra (Rizky). Mereka baru saja menerima rapor hasil belajarnya satu semester ini. Mimi yang akan naik ke kelas delapan mendapat peringkat 6 di kelasnya, satu tingkat dari semester lalu. Sementara Rizky akan naik ke kelas tiga dan mendapat peringkat 4 di kelasnya, padahal semester lalu ia tidak masuk sepuluh besar. Rata-rata nilai mereka juga meningkat. Sontak, ayat-ayat syukur begitu saja terapal dari lidahku.
Sedikit bercerita tentang Mimi. Sebenarnya dulu dia sering dicemooh oleh teman-teman dan orang-orang di sekitar kami di kampung. Sering dibanding-bandingkan dengan Abangnya yang selalu juara kelas. Aku tau betul dia tertekan dengan perlakuan itu. Aku jarang bersama dengan Mimi. Sejak dia masih tiga tahun, aku sudah pindah ke kota Jambi melanjutkan sekolahku. Tahun 2009 Mimi juga pindah sekolah ke Jambi, saat itu dia masih kelas tiga SD. Aku pun telah beralih ke kota lain. Begitulah, kami lebih sering terpisah. Kini, adikku ini telah remaja. Tak banyak yang berubah dari dia. Dia masih sering dipanggil "Amoy", karena mata sipit dan kulitnya yang putih. Terakhir ku lihat rambutnya mulai memanjang. Mungkin karena dulu aku sering melarangnya untuk potong rambut.
Kami hanya berkumpul setahun sekali. Biasanya di bulan ramadhan.Sangat mendukung buat ngajarin dia ngaji, mengulang-ngulang pelajaran sekolahnya. Terutama ya matematika... hehe. Dan ke depan aku akan menambah satu lagi, mengajarinya biola. Aku akan relakan biola kesayanganku digesek olehnya. Walau ku tau biolaku akan terseok-seok menjerit. Yang penting kamu menikmatinya, adikku....
Di tengah persiapan menghadapi ujian, aku di kejutkan oleh kabar gembira dari adik dan keponakanku, Najmi Laili (Mimi) dan M. Rizky Desyafutra (Rizky). Mereka baru saja menerima rapor hasil belajarnya satu semester ini. Mimi yang akan naik ke kelas delapan mendapat peringkat 6 di kelasnya, satu tingkat dari semester lalu. Sementara Rizky akan naik ke kelas tiga dan mendapat peringkat 4 di kelasnya, padahal semester lalu ia tidak masuk sepuluh besar. Rata-rata nilai mereka juga meningkat. Sontak, ayat-ayat syukur begitu saja terapal dari lidahku.
Sedikit bercerita tentang Mimi. Sebenarnya dulu dia sering dicemooh oleh teman-teman dan orang-orang di sekitar kami di kampung. Sering dibanding-bandingkan dengan Abangnya yang selalu juara kelas. Aku tau betul dia tertekan dengan perlakuan itu. Aku jarang bersama dengan Mimi. Sejak dia masih tiga tahun, aku sudah pindah ke kota Jambi melanjutkan sekolahku. Tahun 2009 Mimi juga pindah sekolah ke Jambi, saat itu dia masih kelas tiga SD. Aku pun telah beralih ke kota lain. Begitulah, kami lebih sering terpisah. Kini, adikku ini telah remaja. Tak banyak yang berubah dari dia. Dia masih sering dipanggil "Amoy", karena mata sipit dan kulitnya yang putih. Terakhir ku lihat rambutnya mulai memanjang. Mungkin karena dulu aku sering melarangnya untuk potong rambut.
Kami hanya berkumpul setahun sekali. Biasanya di bulan ramadhan.Sangat mendukung buat ngajarin dia ngaji, mengulang-ngulang pelajaran sekolahnya. Terutama ya matematika... hehe. Dan ke depan aku akan menambah satu lagi, mengajarinya biola. Aku akan relakan biola kesayanganku digesek olehnya. Walau ku tau biolaku akan terseok-seok menjerit. Yang penting kamu menikmatinya, adikku....
Sabtu, 13 Juni 2020
Cinta Tuhan pada Manusia
Saya lebih suka mengatakan, "kita akan mendapat lebih dari suatu kebaikkan yang kita usahakan."
Saat kita tuntas membaca satu buku, maka kita tidak hanya akan mendapatkan ilmu yang dibuku itu, namun lebih. Karena membaca itu hanya pancingan untuk membuahi bibit-bibit ide di pikiran. Lebih lanjut, "Bagi siapa yang mengamalkan suatu ilmu, maka akan dianugerahi kepadanya suatu ilmu yang khusus untuknya."
Selalu saja ada campur tangan Tuhan dalam usaha kebaikkan yang kita lakukan. "Bagi siapa yang berusaha mendekat kepada Allah sejengkal, maka Allah akan mendekatinya sehasta, apabila usahanya mendekat sehasta maka Allah akan mendekatinya sedepa, dan bagi siapa datang kepada Allah dengan berjalan, maka Allah akan datang kepadanya dengan berlari." Lebih lanjut, "Cinta Allah kepada hambanya 70 kali cinta seorang Ibu kepada anaknya."
Tertulislah sebuah kisah. Seorang pemuda miskin, namun begitu sangat disayangi Ibunya. Di suatu acara, si pemuda bertemu tatap dengan seorang gadis yang menawan mata dan hatinya. Sejak kejadian itu gelisah betul si pemuda. Di mana-mana, wajah si gadis juga yang bersua. Saat makan, wajah si gadis memenuhi piringnya. Kala membaca, tangan si gadis pula yang terlihat melambai-lambai. Bahkan, ketika dia berusaha memejamkan mata untuk tidurpun, semakin di pejam semakin nampak jelas wajah si gadis olehnya. Melihat perubahan anaknya, Ibu si pemuda tak kepalang cemasnya.
Singkatnya, mulailah si pemuda mencari tahu, siapa gerangan gadis yang telah memikat hatinya itu. Ingin betul si gadis akan dijadikannya istri. Dari telusuk yang dia lakukan, tahulah dia bahwa si gadis yang cantik tiada tara itu tak lain adalah anak sang raja di kotanya. Gadis yang selama ini begitu masyur kecantikkannya, walau tak banyak yang benar-benar telah melihatnya. Walau begitu halnya, taklah menyurutkan niat si pemuda untuk menyampaikan maksud hatinya ke orang tua si gadis yang raja itu.
Mendengar maksud yang diutara si pemuda, sang raja pun tersenyum masam, bahkan juga si gadis tak kalah dongkol hatinya. Berani betul seorang pemuda miskin menaruh hati padanya. Bertepuk sebelah tangan si pemuda rupanya. Namun, si gadis tak serta merta menolak si pemuda. Mulailah dia mengajukan syarat-syarat yang tak masuk akal. Pertama, si pemuda harus membawa sekarung emas untuk meminangnya, dan tanpa ragu si pemuda pun menyanggupinya. Tiga hari kemudian datanglah si pemuda membawa sekarung emas ke istana. Si gadis mulai cemas. Di perintahkannya seseorang untuk menyelidiki perihal si pemuda. Hingga dia tahu bahwa si pemuda mempunyai seorang ibu yang sangat mencintai dan dicintainya. Selanjutnya, si pemuda di panggil ke istana. Si gadis mensyaratkan kepala ibu si pemuda sebagai mahar pernikahannya, jika dia benar-benar mau menikahinya. Tercengang si pemuda. Tak habis pikir dia mendengar persyaratan si gadis. Sesuatu yang tak mungkin dia lakukan. Si pemuda pulang dengan kegalauannya. Sesampai di rumah, ditemuinya Ibu yang sangat menyayanginya itu sedang tidur. Entah syetan apa yang merasukinya, sekejap dia berlari ke dapur mengambil parang. Di tebasnya batang leher ibunya itu.
Di tengah kegelapan malam, di bawah rintik hujan si pemuda terus berlari menuju istana. Jatuh bangun dia berlari sambil memegang kepala ibunya. Di tengah jalan yang menurun, kaki si pemuda tersandung. Si pemuda terjaruh. Kepala ibunya tergeletak di dekat mukanya. Mata Ibunya terbuka, "sakit kau nak?." Begitulah si Ibu tak habis cintanya, walau anaknya sebegitu menyakitinya.
"Dan Allah 70 kali lebih cinta kepada hambanya, dari pada si Ibu pada anaknya itu."
Saat kita tuntas membaca satu buku, maka kita tidak hanya akan mendapatkan ilmu yang dibuku itu, namun lebih. Karena membaca itu hanya pancingan untuk membuahi bibit-bibit ide di pikiran. Lebih lanjut, "Bagi siapa yang mengamalkan suatu ilmu, maka akan dianugerahi kepadanya suatu ilmu yang khusus untuknya."
Selalu saja ada campur tangan Tuhan dalam usaha kebaikkan yang kita lakukan. "Bagi siapa yang berusaha mendekat kepada Allah sejengkal, maka Allah akan mendekatinya sehasta, apabila usahanya mendekat sehasta maka Allah akan mendekatinya sedepa, dan bagi siapa datang kepada Allah dengan berjalan, maka Allah akan datang kepadanya dengan berlari." Lebih lanjut, "Cinta Allah kepada hambanya 70 kali cinta seorang Ibu kepada anaknya."
Tertulislah sebuah kisah. Seorang pemuda miskin, namun begitu sangat disayangi Ibunya. Di suatu acara, si pemuda bertemu tatap dengan seorang gadis yang menawan mata dan hatinya. Sejak kejadian itu gelisah betul si pemuda. Di mana-mana, wajah si gadis juga yang bersua. Saat makan, wajah si gadis memenuhi piringnya. Kala membaca, tangan si gadis pula yang terlihat melambai-lambai. Bahkan, ketika dia berusaha memejamkan mata untuk tidurpun, semakin di pejam semakin nampak jelas wajah si gadis olehnya. Melihat perubahan anaknya, Ibu si pemuda tak kepalang cemasnya.
Singkatnya, mulailah si pemuda mencari tahu, siapa gerangan gadis yang telah memikat hatinya itu. Ingin betul si gadis akan dijadikannya istri. Dari telusuk yang dia lakukan, tahulah dia bahwa si gadis yang cantik tiada tara itu tak lain adalah anak sang raja di kotanya. Gadis yang selama ini begitu masyur kecantikkannya, walau tak banyak yang benar-benar telah melihatnya. Walau begitu halnya, taklah menyurutkan niat si pemuda untuk menyampaikan maksud hatinya ke orang tua si gadis yang raja itu.
Mendengar maksud yang diutara si pemuda, sang raja pun tersenyum masam, bahkan juga si gadis tak kalah dongkol hatinya. Berani betul seorang pemuda miskin menaruh hati padanya. Bertepuk sebelah tangan si pemuda rupanya. Namun, si gadis tak serta merta menolak si pemuda. Mulailah dia mengajukan syarat-syarat yang tak masuk akal. Pertama, si pemuda harus membawa sekarung emas untuk meminangnya, dan tanpa ragu si pemuda pun menyanggupinya. Tiga hari kemudian datanglah si pemuda membawa sekarung emas ke istana. Si gadis mulai cemas. Di perintahkannya seseorang untuk menyelidiki perihal si pemuda. Hingga dia tahu bahwa si pemuda mempunyai seorang ibu yang sangat mencintai dan dicintainya. Selanjutnya, si pemuda di panggil ke istana. Si gadis mensyaratkan kepala ibu si pemuda sebagai mahar pernikahannya, jika dia benar-benar mau menikahinya. Tercengang si pemuda. Tak habis pikir dia mendengar persyaratan si gadis. Sesuatu yang tak mungkin dia lakukan. Si pemuda pulang dengan kegalauannya. Sesampai di rumah, ditemuinya Ibu yang sangat menyayanginya itu sedang tidur. Entah syetan apa yang merasukinya, sekejap dia berlari ke dapur mengambil parang. Di tebasnya batang leher ibunya itu.
Di tengah kegelapan malam, di bawah rintik hujan si pemuda terus berlari menuju istana. Jatuh bangun dia berlari sambil memegang kepala ibunya. Di tengah jalan yang menurun, kaki si pemuda tersandung. Si pemuda terjaruh. Kepala ibunya tergeletak di dekat mukanya. Mata Ibunya terbuka, "sakit kau nak?." Begitulah si Ibu tak habis cintanya, walau anaknya sebegitu menyakitinya.
"Dan Allah 70 kali lebih cinta kepada hambanya, dari pada si Ibu pada anaknya itu."
Sabtu, 30 Mei 2020
Menyesal
Orang bilang menyesal itu selalu datangnya kemudian. Untuk bisa menyesal dulu sebelum semuanya terlanjur dibutuhkan kesadaran akan hubungan sebab-akibat. Sejalan dengan itu aku melihat gairah mahasiswa (di sini) dalam belajar sungguh mengkuatirkan. Buku, yang seyaknya jadi teman yang dibawa kemana pergi, sudah menjadi barang langka. Sangat sulit menemukan mahasiswa sedang bersitungkin baca buku. Tak perlu mencarinya di luar kelas, karena memang tak mungkin ditemukan, di dalam kelas ketika kuliahpun sulit menemukan mahasiswa yang di atas mejanya ada buku referensi (walaupun iya di kelas tak ada meja bagi mahasiwa.. hehe). Andai saja semangat mereka dalam belajar sama dengan kegasitan mereka dalam menyelip kendaraan lain di jalanan, dan seandainya ketelatenan mereka dalam menyusun jadwal belajar sehebat mereka menemukan jalan-jalan pintas saat sore dilanda macet. Ya, seandainya...
Kembali ke kata menyesal. Akupun menyesal juga kenapa dulu tak belajar lebih maksimal. Sekali lagi, andai saja. Tentu saja standar yang aku maksud tak bisa dibandingkan dengan mahasiswa yang dimaksud dalam status ini. he he ....
Terkait kemampuan untuk menyesal sebelum menyesal itu benar-benar datang, aku teringat akan kebiasaan dulu dengan teman kost, Ucok, begitu aku memanggilnya. Seperti maklumnya mahasiswa, makan di warung murah, pakai telur dan sedikit sayur. Kadang cukup dengan tempe doang. Semuanya disesuaikan dengan lembaran di kantong, yang isinya lebih sering melompong. Tapi kami punya ritual yang mampu menghadirkan rendang dan ayam goreng sebgai pengganti. Yang tersuap ke mulut boleh saja telur atau tempe, tapi mata yang terpumpun yang tak lepas-lepas dari rendang dan ayam goreng di rak-rak warung mampu meyakinkan lidah kami bahwa yang masuk ke mulut itu adalah ayang goreng atau rendang.
Kembali ke kata menyesal. Akupun menyesal juga kenapa dulu tak belajar lebih maksimal. Sekali lagi, andai saja. Tentu saja standar yang aku maksud tak bisa dibandingkan dengan mahasiswa yang dimaksud dalam status ini. he he ....
Terkait kemampuan untuk menyesal sebelum menyesal itu benar-benar datang, aku teringat akan kebiasaan dulu dengan teman kost, Ucok, begitu aku memanggilnya. Seperti maklumnya mahasiswa, makan di warung murah, pakai telur dan sedikit sayur. Kadang cukup dengan tempe doang. Semuanya disesuaikan dengan lembaran di kantong, yang isinya lebih sering melompong. Tapi kami punya ritual yang mampu menghadirkan rendang dan ayam goreng sebgai pengganti. Yang tersuap ke mulut boleh saja telur atau tempe, tapi mata yang terpumpun yang tak lepas-lepas dari rendang dan ayam goreng di rak-rak warung mampu meyakinkan lidah kami bahwa yang masuk ke mulut itu adalah ayang goreng atau rendang.
Selasa, 05 Mei 2020
Dosen atau Petani?
Hari ini hari pertama bibit pepaya dipindahkan ke tanah lepas setelah sebulan lamanya ia hidup terkurung di polybag berdiameter sepuluh sentimeter. Hari pertama hanya sepuluh batang yang mampu dipindahkan. Hari ini stamina tidak terlalu fit. Bangun kesiangan tepat saat azan subuh. Lagi pula istri tidak bisa ditinggal lama. Ini hari-hari menjelang kelahiran anak kedua kami, adeknya Rumi.
Saya ikut bertani sejak masih sekolah dasar, membantu Abak. Seperti halnya juga anak laki-laki seumuran di kampung kami. Tanaman yang paling sering ditanam di antaranya Jeruk, Pepaya, dan Cabe. Ilmu bertani kemudian saya pelajari ketika kuliah di Jogja, juga ketika mengajar di Pontianak. Sepanjang pengalaman saya melihat, mereka yang sukses bertani bukan yang kuat tenaganya walau bertani butuh tenaga, bukan yang banyak ilmu pertaniannya mesti harus ada ilmunya. Semua petani yang sukses memiliki keistiqomahan. Mereka terus saja bertanam, satu atau dua batang setiap hari. Mereka memiliki kepekaan terhadap tanaman seolah mengerti bahasa tanaman.
Bertani tidak harus nungggu modal banyak untuk memulai. Mulai saja menanam. Bertani tidak selalu berhasil walau semuanya sudah direncanakan dengan baik.
Saya kembali ke Jambi awal 2017 setelah setahun lebih di Pontianak. Waktu itu saya mulai berpikir apa yang harus saya lakukan untuk menenuhi kebutuhan sehari-hari. Walau mengajar di Perguruan Tinggi Negeri sebagai seorang dosen, gaji saya jauh dari mencukupi. Dosen DLB, begitu kawan-kawan menyebutnya, itulah status saya waktu itu. Mengajar awal tahun gajiannya pertengahan tahun depan. Tak usah kita sebut nominalnya, malu kita. He he ... Tapi ya alhamdulillah, takut disebut tak bersyukur pula. Beruntungnya status dosen DLB tidak lama bertahan. Tidak sampai satu semester status saya berubah menjadi dosen DTNP, Dosen Tetap Non PNS, hingga akhirnya lulus CPNS 2018, masih di kampus yang sama.
Waktu berstatus dosen DLB itu saya pernah bertanam Cabe Rawit di tanah kakak seluas sepuluh tumbuk. Segalanya sudah saya rencanakan. Harga waktu panen sudah saya ramal, dan terbukti bahkan lebih. Bibit yang disemai tumbuh subur. Namun apa dikata, hari-hari itu datang. Hari-hari di mana saya terlalu sibuk di kampus. Hampir seminggu bibit rawit tidak saya lihat. Seharusnya hari itu bibit mesti ditanam di lahan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Naasnya semuanya telah bergelimpangan, mati di-'kakeh' ayam. Hari itu hari terakhir saya ke ladang. Semua rencana buyar. Harga cabe rawit yang sudah saya ramal itu, yang mencapai seratus limapuluh ribu rupiah perkilonya itu tidak dapat saya nikmati.
Tahun ini girah bertani saya kembali. Setelah bertetangga dengan Cak Imam, dosen baru asal Lamongan. Naluri ramal saya kembali. Semuanya sudah saya rencanakan. Lebih hebat dari rencana yang gagal itu. Kali ini saya tidak mau menyerah, pun nanti gagal lagi. Berbagai tanaman sudah saya siapkan. Proses hulu hingga hilirnya sudah matangkan. Tanah seluas limabelas tumbuk dalam proses persiapan dari yang semulanya semak belukar. Sepuluh tumbuk milik pak Hasbi, rekan sesama dosen dulu, yang juga sama-sama lulus PNS. Lima tumbuk sisanya juga numpang di lahan sebelahnya. Baru separuh yang siap ditanami, ditanami saja dulu. Apa boleh buat bibit Pepaya sudah memaksa ingin segera dipindah. Lebih cepat dari yang direncanakan.
Dari pepaya ini, semoga tahun depan terbeli tanah satu hektar. Ini rencana 3 tahun ke depan. Lokasinya sudah ada. Sudah diramal pula. Langkah perlangkah apa yang akan dilakukan sudah ada. Tinggal duitnya yang belum ada.
Semoga tahun depan bisa bertanam di lahan sendiri. Amin.
Saya ikut bertani sejak masih sekolah dasar, membantu Abak. Seperti halnya juga anak laki-laki seumuran di kampung kami. Tanaman yang paling sering ditanam di antaranya Jeruk, Pepaya, dan Cabe. Ilmu bertani kemudian saya pelajari ketika kuliah di Jogja, juga ketika mengajar di Pontianak. Sepanjang pengalaman saya melihat, mereka yang sukses bertani bukan yang kuat tenaganya walau bertani butuh tenaga, bukan yang banyak ilmu pertaniannya mesti harus ada ilmunya. Semua petani yang sukses memiliki keistiqomahan. Mereka terus saja bertanam, satu atau dua batang setiap hari. Mereka memiliki kepekaan terhadap tanaman seolah mengerti bahasa tanaman.
Bertani tidak harus nungggu modal banyak untuk memulai. Mulai saja menanam. Bertani tidak selalu berhasil walau semuanya sudah direncanakan dengan baik.
Saya kembali ke Jambi awal 2017 setelah setahun lebih di Pontianak. Waktu itu saya mulai berpikir apa yang harus saya lakukan untuk menenuhi kebutuhan sehari-hari. Walau mengajar di Perguruan Tinggi Negeri sebagai seorang dosen, gaji saya jauh dari mencukupi. Dosen DLB, begitu kawan-kawan menyebutnya, itulah status saya waktu itu. Mengajar awal tahun gajiannya pertengahan tahun depan. Tak usah kita sebut nominalnya, malu kita. He he ... Tapi ya alhamdulillah, takut disebut tak bersyukur pula. Beruntungnya status dosen DLB tidak lama bertahan. Tidak sampai satu semester status saya berubah menjadi dosen DTNP, Dosen Tetap Non PNS, hingga akhirnya lulus CPNS 2018, masih di kampus yang sama.
Waktu berstatus dosen DLB itu saya pernah bertanam Cabe Rawit di tanah kakak seluas sepuluh tumbuk. Segalanya sudah saya rencanakan. Harga waktu panen sudah saya ramal, dan terbukti bahkan lebih. Bibit yang disemai tumbuh subur. Namun apa dikata, hari-hari itu datang. Hari-hari di mana saya terlalu sibuk di kampus. Hampir seminggu bibit rawit tidak saya lihat. Seharusnya hari itu bibit mesti ditanam di lahan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Naasnya semuanya telah bergelimpangan, mati di-'kakeh' ayam. Hari itu hari terakhir saya ke ladang. Semua rencana buyar. Harga cabe rawit yang sudah saya ramal itu, yang mencapai seratus limapuluh ribu rupiah perkilonya itu tidak dapat saya nikmati.
Tahun ini girah bertani saya kembali. Setelah bertetangga dengan Cak Imam, dosen baru asal Lamongan. Naluri ramal saya kembali. Semuanya sudah saya rencanakan. Lebih hebat dari rencana yang gagal itu. Kali ini saya tidak mau menyerah, pun nanti gagal lagi. Berbagai tanaman sudah saya siapkan. Proses hulu hingga hilirnya sudah matangkan. Tanah seluas limabelas tumbuk dalam proses persiapan dari yang semulanya semak belukar. Sepuluh tumbuk milik pak Hasbi, rekan sesama dosen dulu, yang juga sama-sama lulus PNS. Lima tumbuk sisanya juga numpang di lahan sebelahnya. Baru separuh yang siap ditanami, ditanami saja dulu. Apa boleh buat bibit Pepaya sudah memaksa ingin segera dipindah. Lebih cepat dari yang direncanakan.
Dari pepaya ini, semoga tahun depan terbeli tanah satu hektar. Ini rencana 3 tahun ke depan. Lokasinya sudah ada. Sudah diramal pula. Langkah perlangkah apa yang akan dilakukan sudah ada. Tinggal duitnya yang belum ada.
Semoga tahun depan bisa bertanam di lahan sendiri. Amin.
Senin, 13 Februari 2017
Memoar Februari 2013
Suatu hal yg tak pernah pupus dari ingatanku. Waktu itu ku masih SMP kelas 2. Senang bangat, karena untuk pertama kalinya tulisanku dimuat di koran dan di baca banyak orang di provinsi tempat ku lahir.
Sejak saat itu, tulisan2 ku mulai acap muncul di koran dan majalah yg cukup populer waktu itu.
Dorongannya bukan saja sekedar hobi, namun lebih karena beberapa lembar rupiah yg selalu terselip dalam amplop putih itu.
Dorongannya bukan saja sekedar hobi, namun lebih karena beberapa lembar rupiah yg selalu terselip dalam amplop putih itu.
Tak main sesaknya nafas ini, saat ku melihat namaku tertulis paling atas di deretan tulisan karya pelajar sekolah menengah waktu itu.
Namun, waktu tak memberiku hari-hari yang panjang tuk membiarkan hatiku terbuai di atas ayunan sanjung puji yg mulai sayup2 sampai ke telingaku.
Karena beberapa hari setelah dimuatnya puisi pertamaku itu. Aku di panggil ke ruang majlis guru tuk menjelaskan makna dibalik puisi itu.
Ku tersentak saat ku sadari, tulisan itu telah membuat guru-guruku mendapat banyak pertanyaan dari guru-guru sekolah lain yang menganggap tulisan ku itu menggambarkan sosok guru yang pendendam.
Kejadian itu sungguh memahat tulisan-tulisanku berikutnya menjadi lebih halus.
Namun, waktu tak memberiku hari-hari yang panjang tuk membiarkan hatiku terbuai di atas ayunan sanjung puji yg mulai sayup2 sampai ke telingaku.
Karena beberapa hari setelah dimuatnya puisi pertamaku itu. Aku di panggil ke ruang majlis guru tuk menjelaskan makna dibalik puisi itu.
Ku tersentak saat ku sadari, tulisan itu telah membuat guru-guruku mendapat banyak pertanyaan dari guru-guru sekolah lain yang menganggap tulisan ku itu menggambarkan sosok guru yang pendendam.
Kejadian itu sungguh memahat tulisan-tulisanku berikutnya menjadi lebih halus.
Walau begitu, orang-orang terdekatku adalah yang paling tak tahu Aku waktu itu (mungkin juga sampai detik ini), karena bagiku tak pantas saja tuk berlagak dihadapan mereka.
Bahkan saat ku meraih tropi berpahatkan Juara II lomba Renang tingkat provinsi disusul nominasi 10 besar karya ilmiah tingkat remaja nasional dan banyak lagi yang tak mereka tahu tentang aku. Ku merasa cukuplah Aku yang bukan siapa-siapa di mata mereka (karena memang ku bukan siapa-siapa,
:-)).
Bahkan saat ku meraih tropi berpahatkan Juara II lomba Renang tingkat provinsi disusul nominasi 10 besar karya ilmiah tingkat remaja nasional dan banyak lagi yang tak mereka tahu tentang aku. Ku merasa cukuplah Aku yang bukan siapa-siapa di mata mereka (karena memang ku bukan siapa-siapa,
Lain di hulu lain di seberang,
lain dulu lain sekarang.
Sekarang, satu buku rahasiaku ditangan mas Edi (bukan nama sebenarnya). satu halaman tlah ludes dibaca, jemarinya mulai membolak-balik halaman demi halaman, sementara raut mukanya yg tipis menunjukkan mimik yg tak menentu. kadang senyum sembringah, namun lebih sering ku lihat matanya berkaca-kaca.
lain dulu lain sekarang.
Sekarang, satu buku rahasiaku ditangan mas Edi (bukan nama sebenarnya). satu halaman tlah ludes dibaca, jemarinya mulai membolak-balik halaman demi halaman, sementara raut mukanya yg tipis menunjukkan mimik yg tak menentu. kadang senyum sembringah, namun lebih sering ku lihat matanya berkaca-kaca.
Pada mas Edi ku tak bisa menjanjikan banyak. Apalagi buku bertuliskan tulisan di lembar-lembar terakhir itu. Mungkin waktunya saja yg belum tepat.
Kamis, 12 Januari 2017
Pujianmu (Bukan) Untuk Ku
"Don't look the book just from the cover," begitu kata orang-orang yang sering tertipu dengan penampilan luar seseorang. Belakangan ini semakin tinggi frekuensi orang-orang memuji saya. Terus terang ini sedikit mengganggu bagi saya, walau tak saya tampakkan kepada mereka yang memuji. Saya merasa saya telah menipu mereka, atau setidaknya mereka yang telah tertipu. Sengaja saya tidak mengulas pujian-pujian itu di sini karena saya merasa itu semua bukanlah saya.
Karenanya saya merasa perlu pula untuk menuliskan tentang siapa sebenarnya saya. Walau tentu tidak semua kelemahan diri pula akan saya beberkan. Hanya yang saya rasa ada manfaatnya bagi pembaca saja. Sebelumnya saya bersyukur kepada Allah swt. yang telah menutupi aib-aib saya, dan semoga Allah swt. tetap menutupnya hingga datang masanya ketika semua aib di buka sebuka-bukanya.
Saya terlahir sebagai seorang anak yang cepat marah. Saya katakan "terlahir" karena sudah sedari kecil saya merasakannya, walau tidak terlalu kentara. Saya tidak mengerti apakah ini faktor keturunan, pengaruh makanan, ataukah lingkungan tempat tinggal saya. Kebingungan inilah yang kemudian mendekatkan saya kepada ilmu-ilmu psikologi.
FAKTOR PERTAMA, mungkin benar adanya. Saya melihat hal itu ada juga pada bapak saya. Waktu mudanya bapak adalah seorang pemain bola di kampungnya. Badannya yang besar dan kokoh menjadikannya Center back yang susah dilewat lawan-lawannya. Di luar lapangan, bapak layaknya pemuda waktu itu, sangat suka berkelahi.
PENGARUH MAKANAN, bisa jadi. Saya terlahir sebagai orang Minang, yang tak perlu ditanya lagi soal makanannya. Kalau bikin gulai, kuahnya pakek. Rasanya yang super pedas tentu barang pasti. Gulai yang full santan kelapa akan menimbulkan kolesterol, ujung-ujungnya berpengaruh pada tensi dan Jantung, ditambah pula dengan cabe yang pedas menyengat. Bisa dibayangkan bagaimana kemudian orang-orang yang mengkonsumsi makanan-makanan seperti itu.
FAKTOR TERAKHIR, tentu sangat mungkin. Hidup di tengah masyarakat yang kacau darisegi kedewasaan, ekonomi, dan tata tertib dalam kehidupan. Di tengah-tengah bangsa yang "galau" meminjam istilah guru saya. Barang tentulah menyubur-kembangkan bibit-bibit emosi yang sejatinya sudah ada ini.
Dulu, sifat pemarah saya ini pernah di titik terendahnya. Saya menjadi sosok penyabar, bahkan sangat penyabar. Hal itu bermula sejak saya diajak i'tiqaf selama tiga hari oleh serombongan orang-orang berjubah-bersurban layaknya Imam Bonjol. Setelah saya rutin mengikuti aktifitas mereka saya menjadi apa yang saya sebut di atas. Saking penyabarnya, pernah suatu kali kami khuruj (istilah yang dipakai orang-orang ini untuk menyatakan pergi berdakwah dari suatu tempat ke tempat lain) ke daerah, yang konon, paling terisolir di sumatera, Garabak Dalam masuk kabupaten Solok waktu itu. Di sana rombongan kami di tolak. Mereka menuduh kami aliran sesat. Padahal kami hanyalah rombongan yang sudah seminggu lebih tersesat di hutan belantara pegunungan Bukit Barisan sebelum sampai di kampung mereka. Kami diusir, dilempari batu dan apapun, bahkan diancam dengan anjing buruan, yang masing-masing mereka memegangnya, jika tidak segera angkat kaki dari kampung mereka. Anehnya bukan marah atau emosi yang saya rasakan, malah yang terpikir waktu itu hanya baginda Rasul ketika di kampung Thaif.
Sudah lama sekali saya tidak mengikuti orang-orang berjenggot itu. Rasanya sifat emosional saya semakin terpelihara. Pada dasarnya saya sangat pandai meredam marah yang saya rasakan. Hanya saja saya paling tidak bisa melihat orang pongah dihadapan saya.
Ketika saya di Pontianak beberapa waktu lalu, sesekali muncul juga amarah saya. Pernah sepulang dari kampus, dipersimpangan jalan seorang preman pasar dengan tato disekujur tangan dan kakinya, ugal-ugalan dan hendak berbelok tanpa menghiraukan saya yang hendak mengambil jalan lurus. Belasan meter ketika dia hendak berbelok saya piuh gas motor, bermaksud hendak menabrakkan motor saya ke motor si preman. Sayang dia berhenti di tengah sehingga tidak jadi betabrakkan. Saya pelankan motor dan melihat ke arahnya. Diapun sedang melihat ke saya. Tatapan kami bertemu, namun dalam tegangan tinggi. Saya belokkan motor bermaksud menghampirinya. Tapi dia sudah lari kecemasan.
Sebelumnya pernah juga ketika saya mengajar di IAIN. Suatu pagi ketika hendak memarkirkan motor. Seorang Satpam menghardik saya di kejauhan. Dia menyuruh saya membalik kepala motor saya. Dengan isarat tangan saya panggil si satpam, yang konon bersabuk hitam di salah satu aliran silat daerah, mendekati saya. Melihat wajahnya yang tiba-tiba memelas saya suruh saja dia membalikkan motor saya.
Terakhir waktu di bandara Supadio Pontianak ketika pulang kemarin. Saya dan istri hendak sembahyang zuhur. Saat kami berbelok ke arah Mushalla, saya dihentikan dengan agak kasar oleh seorang tentara yang sebelumnya telah bicara keras ke orang di depan kami. "Hey hey hey kemana anda?," katanya menunjuk ke arah saya. Saya hampiri dia, dengan muka marah, "saya mau shalat." Dalam benak saya, "kalau orang ini bicara tidak sopan lagi mau saya raih kerah bajunya." Diapun mulai melunak menjawab dengan memperlihatkan muka takutnya.
Jujur saja, setelah masalah-masalah yang saya kemukan di atas, terpikir juga bagaimana kasudahannya kalau alur ceritanya berbeda. Memikirnya tak jarang membuat nyali saya ciut juga. Hehe...
Saya ingin jadi penyabar, dan saya akan terus berusaha. Hanya saja saya mulai muak dengan pujian orang ke saya yang sebenarnya itu bukan saya. Tapi saya suka orang menilai saya lemah, seperti yang saya tunjukkan ke orang kampung saya, rasanya lebih damai.
Langganan:
Postingan (Atom)


