Orang bilang menyesal itu selalu datangnya kemudian. Untuk bisa menyesal dulu sebelum semuanya terlanjur dibutuhkan kesadaran akan hubungan sebab-akibat. Sejalan dengan itu aku melihat gairah mahasiswa (di sini) dalam belajar sungguh mengkuatirkan. Buku, yang seyaknya jadi teman yang dibawa kemana pergi, sudah menjadi barang langka. Sangat sulit menemukan mahasiswa sedang bersitungkin baca buku. Tak perlu mencarinya di luar kelas, karena memang tak mungkin ditemukan, di dalam kelas ketika kuliahpun sulit menemukan mahasiswa yang di atas mejanya ada buku referensi (walaupun iya di kelas tak ada meja bagi mahasiwa.. hehe). Andai saja semangat mereka dalam belajar sama dengan kegasitan mereka dalam menyelip kendaraan lain di jalanan, dan seandainya ketelatenan mereka dalam menyusun jadwal belajar sehebat mereka menemukan jalan-jalan pintas saat sore dilanda macet. Ya, seandainya...
Kembali ke kata menyesal. Akupun menyesal juga kenapa dulu tak belajar lebih maksimal. Sekali lagi, andai saja. Tentu saja standar yang aku maksud tak bisa dibandingkan dengan mahasiswa yang dimaksud dalam status ini. he he ....
Terkait kemampuan untuk menyesal sebelum menyesal itu benar-benar datang, aku teringat akan kebiasaan dulu dengan teman kost, Ucok, begitu aku memanggilnya. Seperti maklumnya mahasiswa, makan di warung murah, pakai telur dan sedikit sayur. Kadang cukup dengan tempe doang. Semuanya disesuaikan dengan lembaran di kantong, yang isinya lebih sering melompong. Tapi kami punya ritual yang mampu menghadirkan rendang dan ayam goreng sebgai pengganti. Yang tersuap ke mulut boleh saja telur atau tempe, tapi mata yang terpumpun yang tak lepas-lepas dari rendang dan ayam goreng di rak-rak warung mampu meyakinkan lidah kami bahwa yang masuk ke mulut itu adalah ayang goreng atau rendang.
Sabtu, 30 Mei 2020
Selasa, 05 Mei 2020
Dosen atau Petani?
Hari ini hari pertama bibit pepaya dipindahkan ke tanah lepas setelah sebulan lamanya ia hidup terkurung di polybag berdiameter sepuluh sentimeter. Hari pertama hanya sepuluh batang yang mampu dipindahkan. Hari ini stamina tidak terlalu fit. Bangun kesiangan tepat saat azan subuh. Lagi pula istri tidak bisa ditinggal lama. Ini hari-hari menjelang kelahiran anak kedua kami, adeknya Rumi.
Saya ikut bertani sejak masih sekolah dasar, membantu Abak. Seperti halnya juga anak laki-laki seumuran di kampung kami. Tanaman yang paling sering ditanam di antaranya Jeruk, Pepaya, dan Cabe. Ilmu bertani kemudian saya pelajari ketika kuliah di Jogja, juga ketika mengajar di Pontianak. Sepanjang pengalaman saya melihat, mereka yang sukses bertani bukan yang kuat tenaganya walau bertani butuh tenaga, bukan yang banyak ilmu pertaniannya mesti harus ada ilmunya. Semua petani yang sukses memiliki keistiqomahan. Mereka terus saja bertanam, satu atau dua batang setiap hari. Mereka memiliki kepekaan terhadap tanaman seolah mengerti bahasa tanaman.
Bertani tidak harus nungggu modal banyak untuk memulai. Mulai saja menanam. Bertani tidak selalu berhasil walau semuanya sudah direncanakan dengan baik.
Saya kembali ke Jambi awal 2017 setelah setahun lebih di Pontianak. Waktu itu saya mulai berpikir apa yang harus saya lakukan untuk menenuhi kebutuhan sehari-hari. Walau mengajar di Perguruan Tinggi Negeri sebagai seorang dosen, gaji saya jauh dari mencukupi. Dosen DLB, begitu kawan-kawan menyebutnya, itulah status saya waktu itu. Mengajar awal tahun gajiannya pertengahan tahun depan. Tak usah kita sebut nominalnya, malu kita. He he ... Tapi ya alhamdulillah, takut disebut tak bersyukur pula. Beruntungnya status dosen DLB tidak lama bertahan. Tidak sampai satu semester status saya berubah menjadi dosen DTNP, Dosen Tetap Non PNS, hingga akhirnya lulus CPNS 2018, masih di kampus yang sama.
Waktu berstatus dosen DLB itu saya pernah bertanam Cabe Rawit di tanah kakak seluas sepuluh tumbuk. Segalanya sudah saya rencanakan. Harga waktu panen sudah saya ramal, dan terbukti bahkan lebih. Bibit yang disemai tumbuh subur. Namun apa dikata, hari-hari itu datang. Hari-hari di mana saya terlalu sibuk di kampus. Hampir seminggu bibit rawit tidak saya lihat. Seharusnya hari itu bibit mesti ditanam di lahan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Naasnya semuanya telah bergelimpangan, mati di-'kakeh' ayam. Hari itu hari terakhir saya ke ladang. Semua rencana buyar. Harga cabe rawit yang sudah saya ramal itu, yang mencapai seratus limapuluh ribu rupiah perkilonya itu tidak dapat saya nikmati.
Tahun ini girah bertani saya kembali. Setelah bertetangga dengan Cak Imam, dosen baru asal Lamongan. Naluri ramal saya kembali. Semuanya sudah saya rencanakan. Lebih hebat dari rencana yang gagal itu. Kali ini saya tidak mau menyerah, pun nanti gagal lagi. Berbagai tanaman sudah saya siapkan. Proses hulu hingga hilirnya sudah matangkan. Tanah seluas limabelas tumbuk dalam proses persiapan dari yang semulanya semak belukar. Sepuluh tumbuk milik pak Hasbi, rekan sesama dosen dulu, yang juga sama-sama lulus PNS. Lima tumbuk sisanya juga numpang di lahan sebelahnya. Baru separuh yang siap ditanami, ditanami saja dulu. Apa boleh buat bibit Pepaya sudah memaksa ingin segera dipindah. Lebih cepat dari yang direncanakan.
Dari pepaya ini, semoga tahun depan terbeli tanah satu hektar. Ini rencana 3 tahun ke depan. Lokasinya sudah ada. Sudah diramal pula. Langkah perlangkah apa yang akan dilakukan sudah ada. Tinggal duitnya yang belum ada.
Semoga tahun depan bisa bertanam di lahan sendiri. Amin.
Saya ikut bertani sejak masih sekolah dasar, membantu Abak. Seperti halnya juga anak laki-laki seumuran di kampung kami. Tanaman yang paling sering ditanam di antaranya Jeruk, Pepaya, dan Cabe. Ilmu bertani kemudian saya pelajari ketika kuliah di Jogja, juga ketika mengajar di Pontianak. Sepanjang pengalaman saya melihat, mereka yang sukses bertani bukan yang kuat tenaganya walau bertani butuh tenaga, bukan yang banyak ilmu pertaniannya mesti harus ada ilmunya. Semua petani yang sukses memiliki keistiqomahan. Mereka terus saja bertanam, satu atau dua batang setiap hari. Mereka memiliki kepekaan terhadap tanaman seolah mengerti bahasa tanaman.
Bertani tidak harus nungggu modal banyak untuk memulai. Mulai saja menanam. Bertani tidak selalu berhasil walau semuanya sudah direncanakan dengan baik.
Saya kembali ke Jambi awal 2017 setelah setahun lebih di Pontianak. Waktu itu saya mulai berpikir apa yang harus saya lakukan untuk menenuhi kebutuhan sehari-hari. Walau mengajar di Perguruan Tinggi Negeri sebagai seorang dosen, gaji saya jauh dari mencukupi. Dosen DLB, begitu kawan-kawan menyebutnya, itulah status saya waktu itu. Mengajar awal tahun gajiannya pertengahan tahun depan. Tak usah kita sebut nominalnya, malu kita. He he ... Tapi ya alhamdulillah, takut disebut tak bersyukur pula. Beruntungnya status dosen DLB tidak lama bertahan. Tidak sampai satu semester status saya berubah menjadi dosen DTNP, Dosen Tetap Non PNS, hingga akhirnya lulus CPNS 2018, masih di kampus yang sama.
Waktu berstatus dosen DLB itu saya pernah bertanam Cabe Rawit di tanah kakak seluas sepuluh tumbuk. Segalanya sudah saya rencanakan. Harga waktu panen sudah saya ramal, dan terbukti bahkan lebih. Bibit yang disemai tumbuh subur. Namun apa dikata, hari-hari itu datang. Hari-hari di mana saya terlalu sibuk di kampus. Hampir seminggu bibit rawit tidak saya lihat. Seharusnya hari itu bibit mesti ditanam di lahan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Naasnya semuanya telah bergelimpangan, mati di-'kakeh' ayam. Hari itu hari terakhir saya ke ladang. Semua rencana buyar. Harga cabe rawit yang sudah saya ramal itu, yang mencapai seratus limapuluh ribu rupiah perkilonya itu tidak dapat saya nikmati.
Tahun ini girah bertani saya kembali. Setelah bertetangga dengan Cak Imam, dosen baru asal Lamongan. Naluri ramal saya kembali. Semuanya sudah saya rencanakan. Lebih hebat dari rencana yang gagal itu. Kali ini saya tidak mau menyerah, pun nanti gagal lagi. Berbagai tanaman sudah saya siapkan. Proses hulu hingga hilirnya sudah matangkan. Tanah seluas limabelas tumbuk dalam proses persiapan dari yang semulanya semak belukar. Sepuluh tumbuk milik pak Hasbi, rekan sesama dosen dulu, yang juga sama-sama lulus PNS. Lima tumbuk sisanya juga numpang di lahan sebelahnya. Baru separuh yang siap ditanami, ditanami saja dulu. Apa boleh buat bibit Pepaya sudah memaksa ingin segera dipindah. Lebih cepat dari yang direncanakan.
Dari pepaya ini, semoga tahun depan terbeli tanah satu hektar. Ini rencana 3 tahun ke depan. Lokasinya sudah ada. Sudah diramal pula. Langkah perlangkah apa yang akan dilakukan sudah ada. Tinggal duitnya yang belum ada.
Semoga tahun depan bisa bertanam di lahan sendiri. Amin.
Senin, 13 Februari 2017
Memoar Februari 2013
Suatu hal yg tak pernah pupus dari ingatanku. Waktu itu ku masih SMP kelas 2. Senang bangat, karena untuk pertama kalinya tulisanku dimuat di koran dan di baca banyak orang di provinsi tempat ku lahir.
Sejak saat itu, tulisan2 ku mulai acap muncul di koran dan majalah yg cukup populer waktu itu.
Dorongannya bukan saja sekedar hobi, namun lebih karena beberapa lembar rupiah yg selalu terselip dalam amplop putih itu.
Dorongannya bukan saja sekedar hobi, namun lebih karena beberapa lembar rupiah yg selalu terselip dalam amplop putih itu.
Tak main sesaknya nafas ini, saat ku melihat namaku tertulis paling atas di deretan tulisan karya pelajar sekolah menengah waktu itu.
Namun, waktu tak memberiku hari-hari yang panjang tuk membiarkan hatiku terbuai di atas ayunan sanjung puji yg mulai sayup2 sampai ke telingaku.
Karena beberapa hari setelah dimuatnya puisi pertamaku itu. Aku di panggil ke ruang majlis guru tuk menjelaskan makna dibalik puisi itu.
Ku tersentak saat ku sadari, tulisan itu telah membuat guru-guruku mendapat banyak pertanyaan dari guru-guru sekolah lain yang menganggap tulisan ku itu menggambarkan sosok guru yang pendendam.
Kejadian itu sungguh memahat tulisan-tulisanku berikutnya menjadi lebih halus.
Namun, waktu tak memberiku hari-hari yang panjang tuk membiarkan hatiku terbuai di atas ayunan sanjung puji yg mulai sayup2 sampai ke telingaku.
Karena beberapa hari setelah dimuatnya puisi pertamaku itu. Aku di panggil ke ruang majlis guru tuk menjelaskan makna dibalik puisi itu.
Ku tersentak saat ku sadari, tulisan itu telah membuat guru-guruku mendapat banyak pertanyaan dari guru-guru sekolah lain yang menganggap tulisan ku itu menggambarkan sosok guru yang pendendam.
Kejadian itu sungguh memahat tulisan-tulisanku berikutnya menjadi lebih halus.
Walau begitu, orang-orang terdekatku adalah yang paling tak tahu Aku waktu itu (mungkin juga sampai detik ini), karena bagiku tak pantas saja tuk berlagak dihadapan mereka.
Bahkan saat ku meraih tropi berpahatkan Juara II lomba Renang tingkat provinsi disusul nominasi 10 besar karya ilmiah tingkat remaja nasional dan banyak lagi yang tak mereka tahu tentang aku. Ku merasa cukuplah Aku yang bukan siapa-siapa di mata mereka (karena memang ku bukan siapa-siapa,
:-)).
Bahkan saat ku meraih tropi berpahatkan Juara II lomba Renang tingkat provinsi disusul nominasi 10 besar karya ilmiah tingkat remaja nasional dan banyak lagi yang tak mereka tahu tentang aku. Ku merasa cukuplah Aku yang bukan siapa-siapa di mata mereka (karena memang ku bukan siapa-siapa,
Lain di hulu lain di seberang,
lain dulu lain sekarang.
Sekarang, satu buku rahasiaku ditangan mas Edi (bukan nama sebenarnya). satu halaman tlah ludes dibaca, jemarinya mulai membolak-balik halaman demi halaman, sementara raut mukanya yg tipis menunjukkan mimik yg tak menentu. kadang senyum sembringah, namun lebih sering ku lihat matanya berkaca-kaca.
lain dulu lain sekarang.
Sekarang, satu buku rahasiaku ditangan mas Edi (bukan nama sebenarnya). satu halaman tlah ludes dibaca, jemarinya mulai membolak-balik halaman demi halaman, sementara raut mukanya yg tipis menunjukkan mimik yg tak menentu. kadang senyum sembringah, namun lebih sering ku lihat matanya berkaca-kaca.
Pada mas Edi ku tak bisa menjanjikan banyak. Apalagi buku bertuliskan tulisan di lembar-lembar terakhir itu. Mungkin waktunya saja yg belum tepat.
Kamis, 12 Januari 2017
Pujianmu (Bukan) Untuk Ku
"Don't look the book just from the cover," begitu kata orang-orang yang sering tertipu dengan penampilan luar seseorang. Belakangan ini semakin tinggi frekuensi orang-orang memuji saya. Terus terang ini sedikit mengganggu bagi saya, walau tak saya tampakkan kepada mereka yang memuji. Saya merasa saya telah menipu mereka, atau setidaknya mereka yang telah tertipu. Sengaja saya tidak mengulas pujian-pujian itu di sini karena saya merasa itu semua bukanlah saya.
Karenanya saya merasa perlu pula untuk menuliskan tentang siapa sebenarnya saya. Walau tentu tidak semua kelemahan diri pula akan saya beberkan. Hanya yang saya rasa ada manfaatnya bagi pembaca saja. Sebelumnya saya bersyukur kepada Allah swt. yang telah menutupi aib-aib saya, dan semoga Allah swt. tetap menutupnya hingga datang masanya ketika semua aib di buka sebuka-bukanya.
Saya terlahir sebagai seorang anak yang cepat marah. Saya katakan "terlahir" karena sudah sedari kecil saya merasakannya, walau tidak terlalu kentara. Saya tidak mengerti apakah ini faktor keturunan, pengaruh makanan, ataukah lingkungan tempat tinggal saya. Kebingungan inilah yang kemudian mendekatkan saya kepada ilmu-ilmu psikologi.
FAKTOR PERTAMA, mungkin benar adanya. Saya melihat hal itu ada juga pada bapak saya. Waktu mudanya bapak adalah seorang pemain bola di kampungnya. Badannya yang besar dan kokoh menjadikannya Center back yang susah dilewat lawan-lawannya. Di luar lapangan, bapak layaknya pemuda waktu itu, sangat suka berkelahi.
PENGARUH MAKANAN, bisa jadi. Saya terlahir sebagai orang Minang, yang tak perlu ditanya lagi soal makanannya. Kalau bikin gulai, kuahnya pakek. Rasanya yang super pedas tentu barang pasti. Gulai yang full santan kelapa akan menimbulkan kolesterol, ujung-ujungnya berpengaruh pada tensi dan Jantung, ditambah pula dengan cabe yang pedas menyengat. Bisa dibayangkan bagaimana kemudian orang-orang yang mengkonsumsi makanan-makanan seperti itu.
FAKTOR TERAKHIR, tentu sangat mungkin. Hidup di tengah masyarakat yang kacau darisegi kedewasaan, ekonomi, dan tata tertib dalam kehidupan. Di tengah-tengah bangsa yang "galau" meminjam istilah guru saya. Barang tentulah menyubur-kembangkan bibit-bibit emosi yang sejatinya sudah ada ini.
Dulu, sifat pemarah saya ini pernah di titik terendahnya. Saya menjadi sosok penyabar, bahkan sangat penyabar. Hal itu bermula sejak saya diajak i'tiqaf selama tiga hari oleh serombongan orang-orang berjubah-bersurban layaknya Imam Bonjol. Setelah saya rutin mengikuti aktifitas mereka saya menjadi apa yang saya sebut di atas. Saking penyabarnya, pernah suatu kali kami khuruj (istilah yang dipakai orang-orang ini untuk menyatakan pergi berdakwah dari suatu tempat ke tempat lain) ke daerah, yang konon, paling terisolir di sumatera, Garabak Dalam masuk kabupaten Solok waktu itu. Di sana rombongan kami di tolak. Mereka menuduh kami aliran sesat. Padahal kami hanyalah rombongan yang sudah seminggu lebih tersesat di hutan belantara pegunungan Bukit Barisan sebelum sampai di kampung mereka. Kami diusir, dilempari batu dan apapun, bahkan diancam dengan anjing buruan, yang masing-masing mereka memegangnya, jika tidak segera angkat kaki dari kampung mereka. Anehnya bukan marah atau emosi yang saya rasakan, malah yang terpikir waktu itu hanya baginda Rasul ketika di kampung Thaif.
Sudah lama sekali saya tidak mengikuti orang-orang berjenggot itu. Rasanya sifat emosional saya semakin terpelihara. Pada dasarnya saya sangat pandai meredam marah yang saya rasakan. Hanya saja saya paling tidak bisa melihat orang pongah dihadapan saya.
Ketika saya di Pontianak beberapa waktu lalu, sesekali muncul juga amarah saya. Pernah sepulang dari kampus, dipersimpangan jalan seorang preman pasar dengan tato disekujur tangan dan kakinya, ugal-ugalan dan hendak berbelok tanpa menghiraukan saya yang hendak mengambil jalan lurus. Belasan meter ketika dia hendak berbelok saya piuh gas motor, bermaksud hendak menabrakkan motor saya ke motor si preman. Sayang dia berhenti di tengah sehingga tidak jadi betabrakkan. Saya pelankan motor dan melihat ke arahnya. Diapun sedang melihat ke saya. Tatapan kami bertemu, namun dalam tegangan tinggi. Saya belokkan motor bermaksud menghampirinya. Tapi dia sudah lari kecemasan.
Sebelumnya pernah juga ketika saya mengajar di IAIN. Suatu pagi ketika hendak memarkirkan motor. Seorang Satpam menghardik saya di kejauhan. Dia menyuruh saya membalik kepala motor saya. Dengan isarat tangan saya panggil si satpam, yang konon bersabuk hitam di salah satu aliran silat daerah, mendekati saya. Melihat wajahnya yang tiba-tiba memelas saya suruh saja dia membalikkan motor saya.
Terakhir waktu di bandara Supadio Pontianak ketika pulang kemarin. Saya dan istri hendak sembahyang zuhur. Saat kami berbelok ke arah Mushalla, saya dihentikan dengan agak kasar oleh seorang tentara yang sebelumnya telah bicara keras ke orang di depan kami. "Hey hey hey kemana anda?," katanya menunjuk ke arah saya. Saya hampiri dia, dengan muka marah, "saya mau shalat." Dalam benak saya, "kalau orang ini bicara tidak sopan lagi mau saya raih kerah bajunya." Diapun mulai melunak menjawab dengan memperlihatkan muka takutnya.
Jujur saja, setelah masalah-masalah yang saya kemukan di atas, terpikir juga bagaimana kasudahannya kalau alur ceritanya berbeda. Memikirnya tak jarang membuat nyali saya ciut juga. Hehe...
Saya ingin jadi penyabar, dan saya akan terus berusaha. Hanya saja saya mulai muak dengan pujian orang ke saya yang sebenarnya itu bukan saya. Tapi saya suka orang menilai saya lemah, seperti yang saya tunjukkan ke orang kampung saya, rasanya lebih damai.
Kamis, 21 April 2016
Hakekat Berpikir
PIKIRAN adalah potensi yang dimiliki manusia untuk memahami segala sesuatu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pikiran berarti hasil berpikir. Untuk berpikir manusia menggunakan akal, dan kebisaan menggunakan akal inilah yang membedakan manusia dengan hewan lainnya. Akal adalah mesin atau benda dalam ranah abstrak. Singkatnya, orang yang sedang berpikir artinya orang tersebut sedang menggunakan akalnya. Dan akal yang sering digunakan akan mengakibatkan akal tersebut semakin terasah, sehingga semakin tajam dalam berpikir, dan berakibat pemikiran (produk) yang dihasilkan semakin berkualitas.
Saat berpikir manusia dipengaruhi oleh input yang ada. Input tersebut diserap oleh indra. Kualitas input sangat bergantung pada tingkat kepekaan indra seseorang. Semakin peka indra yang dimiliki semakin sempurnalah input yang didapat. Dalam hal ini, "indra keenam" atau intuisi perlu pembahasan khusus, karena berhubungan dengan kepekaan rasa atau hati (dalam ranah abstrak, bukan organ hati). Imam al-Ghazali mengibaratkan hati bak sebuah bejana yang dialiri dari tiga saluran yakni: mata, telinga, dan akal khayal. Jika kotoran yang alirkan oleh ketiganya maka kotoran pulalah yang menumpuk di hati. Namun, bila yang dilihat dan didengar selalu yang baik, yang pikir dan dizikir senantiasa yang baik lagi jernih, maka baik dan jernihlah hati itu.
Semua input masuk ke akal. Di sinilah input diolah dengan campuran intuisi, yang selanjutnya melahirkan pemikiran (output). Dalam siklus berikutnya, output akan menjadi input. Singkatnya, pemikiran dengan pemikiran selanjutnya adalah saling berkaitan dan mempengaruhi. Pemikiran orang yang kita "baca", pun akan menjadi output yang sangat menentukan. Dan dulu saya pernah katakan, "...... pembaca yang hebat adalah yang tidak terpengaruh dengan bacaannya."
Senin, 11 Mei 2015
Sang Pemenung (Kutipan dari tulisan pribadi)
Dulu, waktu masih berstatus anak sekolahan, bila ditanya apa hobiku selalu ku jawab, melamun. Dalam lamunan ku membayangkan kehidupan yang ideal menurut pikiranku. Tentang cita-citaku menjadi astronot. Juga tentang solusi dari masalah yang menjadi buah pikirku. Tak jarang semua itu ku tuliskan dalam note yang selalu ku bawa ke mana pergi. Kadang ide keluar begitu saja, tak kenal tempat dan waktu. Sedang di angkot, lagi berjalan, lewat mimpi, bahkan sedang asyik di toilet sekalipun.
Di masa putih-biru. Ku lihat ruangan kelas, gersang. Sehingga aku gantung puisi-puisi dan kata mutiara yang ku tulis di karton yang ku bingkai sendiri dengan pelepah Sagu. Di waktu yang lain, aku membayangkan sekolahku yang ditengah sawah yang tak berpohon lindung itu, dipenuhi pepohonan rindang dengan taman bunga nan beraneka ragam warnanya. "Alangkah indah dan nyaman untuk belajar," khayalku. Sejak pikiran itu terlintas, aku mulai membibitkan biji pohon yang ku ambil dari buah pohon di tepi jalan raya. Beberapa batang hidup subur hingga selutut di polybag yang ku buat sendiri. Waktu itu di akhir-akhir kelas tiga. Melalui OSIS kami serahkan pohon yang telah selutut tingginya itu ke pihak sekolah. "Kenang-kenangan dari kami pak," kami beralasan.
Beberapa tahun setelah kami tamat, kami silaturahmi ke sekolah. Senang betul hatiku melihat pohon yang kami tanam itu tumbuh subur. Sudah seatap sekolah tingginya.
Di masa-masa aku banyak khayal itu, aku juga sering mimpi menjadi penemu. Suatu kali aku bermimpi menemukan teknik terbang di ketinggian sepuluh hingga duapuluh meter tanpa alat bantu. Pernah juga mimpi menemukan mesin pemanen buah-buahan. Dalam mimpi aku melakukan uji coba ke batang rambutan. Aku tempelkan salah satu bagian mesin tersebut ke batangnya, dalam hitungan detik semua buah rambutan yang matang berjatuhan ke tanah. Mimpi membuat teori integral juga pernah. Yang terakhir, terjadi dalam dua tahun ini. Mungkin karena sebelum tidur oret-oret tentang integral Lebesgue. Juga tesisku,, pun berawal dari mimpi dalam tidurku. hehe...
Menjelang tamat SMA, adalah waktu-waktu di mana aku takut bermimpi, takut bercita-cita. Butuh tiga tahun untuk ku kembali berani bermimpi. Tapi, apa yang ku dapatkan saat ini benar-benar di luar mimpiku. Setidaknya sejak titik balik itu terjadi.
Kemarin, ku balik-balik note-ku. Di suatu halaman tertulis akan membangun taman bunga di bukit Taman Bayang yang terabaikan itu. Aku pernah berkunjung ke lokasi bukit Taman, waktu SMP. Bila ku bandingkan dengan bukit Langkisau yang indah memagari kota Painan itu. Belumlah separuhnya menurut kira-kiraku. Di taman bunga itu didirikan rumah-rumah kecil semacam vila lengkap dengan taman bermainnya. Setiap pasangan yang baru menikah di daerah itu akan di gratiskan berbulan madu di sana selama dua malam, full service. Sebagai upaya memotivasi muda-mudi menikah, dan meningkatkan tingkat kebahagian masyarakat.
Sang Pemenung (Kutip dari tulisan pribadi)
Jika kau pergi ke kampungku. Dari kota Padang, kau akan butuh waktu setidaknya dua jam mengendarai motor. Bila kau telah tiba di pertigaan Gaung yang ramai itu. Matamu akan dimanjakan oleh jejeran buah bengkuang yang diikat-ikat, oleh merahnya keripik balado nan memancing liur, serta masakan khas minang lain yang belum kau tahu walau lewat mimpimu. Di kiri jalan, bus-bus ukuran sedang yang menepi akan manarik pandanganmu. Kaca belakangnya penuh dengan gambar. Ada yang gambar masjid, lukisan pemandangan alam nan hijau, bahkan Buya Hamka yang memakai peci hitam juga ada. Semua bus itu akan melewati kampungku, tapi masih lima kilometer lagi ke kampung kecilku. Karena jalur bus itu terus ke ujung pesisir selatan, tiga jam sebelum perbatasan Bengkulu. Dulu, ada bus yang langsung ke kampung kecilku, bahkan sampai dua puluh kilometer ke utara hingga negeri Limau-limau. Di sana ada objek wisata Jembatan Akar, yang menurut kata orang hanya ada dua di dunia, yang satu lagi itu di hutan Amazon sana. Sudah empat tahun ini bus Mansiro, Bayang Super, Bayang Wisata, dan lainnya itu tak kedengaran lagi klakson "pup puuppp"nya itu.
Di hari biasa, sejak subuh pertigaan Gaung sudah ramai oleh lalu lalang orang dan kendaraan. Dan akan lebih padat di hari-hari libur, terlebih lagi sepuluh hari menjelang dan setelah hari raya. Jalan kaki akan lebih cepat dari pada laju mobil.
Seratus meter dari simpang Gaung, di kanan jalan ada Masjid yang bersebelahan dengan pasar Gaung. Waktu kuliah di kota Padang, aku sering sembahyang di sini tiap pulang kampung. Terus berjalan, tiga ratus meter kau akan merasa "amazing". Desiran ombak di kanan jalan yang membelai daun telinga, puluhan kapal besar dikerumuni kapal-kapal kecil yang sedang menepi di pelabuhan Teluk Bayur, semilir angin Samudera Hindia yang menyentuh kulitmu. Semuanya akan merayumu tuk berdecak kagum, memuji kemaha-indahannya.
Jalanmu akan berkelok-kelok menyisir di sepanjang pantai. Matamu akan memandang jauh ke samudera lepas. Di kiri sepanjang jalan, kau akan ciumi aroma Bukit Lampu nan menegangkan itu. Waktu gempa bumi 2009 lalu, bongkahan batu sebesar rumah tipe 36 berguling dari arah puncak bukit dan berhenti di tengah jalan yang kau lewati ini. Untung tak ditabraknya rumah esek-esek yang menyemut di sekitar Bukit Lampu itu.
Kini, kau melewati jalan berbelok, membalik ke belakang Bukit Lampu. Dan tujuh menit lagi kau akan meninggalkannya. Pelabuhan Bungus mulai terlihat di bawah sana. Kapal-kapal besar, kecil terlihat oleh mata. Kota Padang dan pelabuhan Teluk Bayur di balik bukit kau sekarang ini.
Sampai di sini, ku puntar ceritanya biar singkat. Lain kali, jika ada kesempatan akan disambung.
Dari Pelabuhan Bungus hingga sampai ke kampungku, Kau akan melewati sebelas masjid/mushalla di kiri jalan, dan tujuh belas di kanan jalan. Kau akan selalu disuguhi keindahan pantai, kecuali sesekali menjauh dari bibirnya. Nuansa perbukitan, pesona sawah terasering, dan gemericik arus sungai nan deras berkelok akan menemanimu kala pantai tak kau temui. Kau akan melewati daerah yang rawan musim durian. Sehingga kau sampai di pertigaan Pasar Baru Bayang. Jika lurus, kau akan menuju pusat kota, Painan, dan jika terus lagi, setelah enam-tujuh jam sampailah kau di perbatasan provinsi Bengkulu. Tapi kau kan hendak ke kampungku, maka kau akan berbelok ke kiri. Lima kilometer dari sini, matamu akan hijau dengan hamparan sawah bila masih sebulan umur padinya. Tapi akan menguning mendekati musim panen.
Langganan:
Postingan (Atom)


